Selasa, 23 Juni 2009

English Corner

English Corner

Children Learning a Foreign Language

The field of teaching young learners, particularly in teaching English, has expanded enormously in the last 10 years but is only just beginning to be researched. Piaget and Vygotsky high lighting key ideas from their work that can inform how we think of the child as a language learner.

a. JEAN PIAGET – The child as active learner

Piaget concluded that intellectual development is the result of the interaction of hereditary and environmental factors. Piaget discovered that children think and reason differently at different periods in their lives. Although every normal child passes through the stages in exactly the same order, there is some variability in the ages at which children attain each stage. Sensor motor - birth to 2 years; preoperational - 2 years to 7 years; concrete operational - 7 years to 11 years; and formal operational (abstract thinking) - 11 years and up. In the sensor motor stage, the mental structures are mainly concerned with the mastery of concrete objects. The mastery of symbols takes place in the preoperational stage. In the concrete stage, children learn mastery of classes, relations, and numbers and how to reason. The last stage deals with the mastery of thought. Intellectual growth involves two fundamental processes: assimilation, and accommodation. When the action occurs without causing any change in the child assimilation happens; on the other hand, when the child adjusts himself to the environment in some ways, accommodation is involved. Piaget espoused active discovery learning environments. Piaget emphasize that activity is essential Children need to explore, to manipulate, to experiment, to question, and to search out answers for themselves. Children are hoped can adapt through experiences with objects in their environments However, this does not mean that children should be allowed to do whatever they want. Teachers as facilitators of knowledge - they are there to guide, to stimulate, to give the guidance in student’s creation. These concepts supply the students as a active participants with a learning environment that encourages children to initiate, to complete and to have creativity or discovery in their own activities.

b. Vygotsky

Underlying Vygotsky theory is the central observation that development and learning take place in a social context. For Vygotsky the child is an active learner in a world full of other people. In a whole range of ways, adults mediate the world for children and make it accessible to them. With the help of adults, children can do and understand much more than they can on their own. Vygotsky used the idea of the ZPD (zone of proximal development) to give a new meaning to intelligence. Vygotsky suggested that intelligence was better measured by what a child can do with skilled help. Vygotsky saw that child as first doing things in a social context, with other people and language helping in various ways, and gradually shifting away from reliance on others to independent action and thinking. In the internalizing process, the interpersonal, joint talk and joint activity, later becomes intrapersonal, mental action by one individual.

c. Bruner – Constructivist theory

Bruner’s notion of scaffolding develops this idea to show how adults can support children in the construction of understanding. Parents who scaffold tasks effectively for children did the following:

a. they made the children interested in the task;

b. they simplified the task, often by breaking it down into smaller steps;

c. they kept the child on track towards completing the task by reminding the child of what the goal was;

d. they pointed out what was important to do;

e. they controlled the child’s frustration during the task;

f. they demonstrated an idealized version of the task.

More over, good scaffolding was tuned to the needs of the child and adjusted as the child became more competent. Scaffolding has been transferred to the classroom and teacher-pupil talk. The increased complexity of language provides a space for language growth; if the new language is within a child’s ZPD, child will make sense of it and star the process of internalizing it. Routines then can provide opportunities for meaningful language development; it will open up many possibilities for developing language skills.

Senin, 15 Juni 2009

pengertian pendidikan

Kita tahu bahwa ada banyak definisi pendidikan. Ini jelas menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai hal yang sangat penting, sehingga banyak pihak yang merasa perlu untuk memberikan definisi -- pengertian atau memaknainya. Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah pedagogik, yaitu : ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (mengolah), mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlakkecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.Mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusia-kan manusia, pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalamnya, pembelajaran merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan.Artinya, pendidikan adalah usaha membawa manusia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humannes). dan

Dewey berpendapat bahwa “education is not a preparation of life, but education is life itself”. Pendidikan adalah bukan persiapan kehidupan, tetapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Pendapat Dewey ini memberikan pengertian pendidikan seluas dengan pengertian kehidupan itu sendiri. Pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan adalah pendidikan. Pendapat yang lain dinyatakan bahwa, “education is the fundamental method of social progress and reform” (Dewey, 1896b). Dengan kata lain, pendidikan tidak lain adalah metode fundamental dari kemajuan dan reformasi sosial. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ho Chi Minh, bapak pendidikan negara Vietnam, yang menyatakan bahwa ”No teacher, no education. No education no social-economic development”.

I. J. Rousesau berpendapat bahhwa pada dasar (asal)-nya rnunusia baik, menjadi jelek (jahat) karena peng lingkungan. Dasar pendidikan menurut Rousseau adalah pembawaan dan tujuan pendidikan ialah membentuk manusia yang bebas merdeka. Sifat pendidikan adalah individualistis dan individu (anak) itu harus dijauhkan dari pengaruh masyarakat dan bahkan dijauhkan dari orang tuanya. Hasil pemikirannya dituangkan dalam buku Le Contract Social berisi tentang ilmu kenegaraan dan Emile yang berisi bagaimana mendidik anak sampai dewasa yang baik dan benar.

Dari etimologi dan analisis pengertian pendidikan di atas, secara singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya.

Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, tidak berhenti. Di dalam proses pendidikan ini, keluhuran martabat manusia dipegang erat karena manusia (yang terlibat dalam pendidikan ini) adalah "subyek" dari -- pendidikan. Karena merupakan subyek di dalam pendidikan, maka dituntut suatu tanggung jawab agar tercapai suatu hasil pendidikan yang baik. Jika memperhatikan bahwa manusia itu sebagai subyek dan pendidikan meletakkan hakikat manusia pada hal yang terpenting, maka perlu diperhatikan juga masalah otonomi pribadi. Maksudnya adalah, manusia sebagai subyek pendidikan harus bebas untuk "ada" sebagai dirinya yaitu manusia yang berpribadi, yang bertanggung jawab.

Melalui pendidikan manusia menyadari hakikat dan martabatnya di dalam relasinya yang tak terpisahkan dengan alam lingkungannya dan sesamanya. Itu berarti, pendidikan sebenarnya mengarahkan manusia menjadi insan yang sadar diri dan sadar lingkungan. Dari kesadarannya itu mampu memperbarui diri dan lingkungannya tanpa kehilangan kepribadian dan tidak tercerabut dari akar tradisinya.